Sering sekali kita mendengar kebutuhan pokok terdiri dari sandang, pangan dan papan.
Karenanya, banyak orang tua yang begitu terfokus akan 3 kebutuhan dasar tersebut dan melupakan satu kebutuhan yang ternyata juga mendasar terutama bagi anak-anak yaitu kebutuhan emosional.

Karena anak-anak masih dalam masa pertumbuhan, sisi emosional mereka pun masih berkembang.
Mereka tentu saja masih sering kesulitan dalam berpikir secara logis dan rasional layaknya orang dewasa. Sebagai orang tua, yang bisa kita lakukan adalah mengajarkan anak-anak mengenali dan mengelola emosi mereka.
(Baca juga artikel berjudul: Pentingnya Mengajarkan Anak Mengelola Emosi)
Kita juga bisa mengenali kebutuhan-kebutuhan emosional mereka terlebih dulu sehingga lebih mudah dalam
mengarahkan anak dalam meregulasi emosi-emosi mereka.

Kebutuhan-kebutuhan emosional anak
1. Kebutuhan untuk merasa aman.
Anak-anak secara natural akan merasa aman saat berada di rumah dengan keluarga mereka.
Bagi mereka ayah dan ibu memiliki sinonim dengan rasa aman.
Ini karena mereka bisa menjadi diri mereka sendiri yang menimbulkan rasa aman dan nyaman akan diri mereka.
Meski begitu, orang tua perlu terus berupaya agar anak merasa aman dalam diri dan saat bersama keluarga mereka.
Jika rasa aman mereka terkikis, bukan tidak mungkin anak akan mencari rasa aman tersebut ke lingkungan lain yang belum tentu
berdampak baik.

2. Kebutuhan akan pengakuan, diterima, dan dicintai.
Anak-anak sering dianggap hanya sebagai anak kecil yang tidak bisa berbuat banyak hal tanpa bantuan.
Jarang sekali mereka dianggap mampu melakukan banyak hal terutama oleh orang yang lebih dewasa.
Hal ini bisa membuat mereka merasa diremehkan dan tidak diakui.
Perasaan diremehkan tersebut bisa merusak harga diri dan rasa percaya diri mereka.
Selain meremehkan, membanding-bandingkan anak dengan anak lain dan terus-terusan mengkritik juga
memiliki dampak yang tidak baik.
Anak tentu akan merasa tidak diterima dan tidak dicintai sebagai diri mereka apa adanya.

3. Kebutuhan untuk mengontrol.
Saat kita tidak diberi pilihan dan dihadapkan pada hal yang tidak kita suka, kita pasti merasa tidak berdaya.
Perasaan tidak berdaya, tidak memiliki kontrol juga bisa anak-anak rasakan dan dapat berujung pada sikap-sikap yang buruk.
Anak-anak yang tidak diberikan kontrol dalam level tertentu akan merasa sangat tidak nyaman dan menunjukkan sikap tidak baik seperti berteriak, berkata tidak sopan atau menangis.
Ini karena anak juga ingin didengar dan diberi kesempatan untuk beropini.

Bagaimana cara memenuhi kebutuhan emosional anak?
Rasa aman, diakui, diterima, dicintai dan rasa berdaya pada anak perlu terus diberikan terutama oleh orang tua.
Namun, masih banyak orang tua yang tidak terus menerus mengisi cangkir rasa aman anak.
Banyak orang tua yang tidak tahu bagaimana caranya.
Hal pertama yang orang tua perlu lakukan adalah mengetahui bahasa cinta anak.
Anak-anak perlu sentuhan fisik penuh kasih, kata-kata pujian, bantuan saat mereka membutuhkannya, hadiah-hadiah kecil dan
memiliki waktu khusus bersama orang tua tanpa diganggu oleh pekerjaan atau sosial media dan gadget.
Orang tua perlu melakukan hal-hal itu secara berkala agar cangkir emosi anak terpenuhi dengan baik.
Anak yang cangkir emosinya dipenuhi oleh hal-hal baik tentu akan merasa aman dan dicintai.
Lalu orang tua juga bisa melibatkan anak dalam lebih banyak hal seperti meminta pendapat mereka saat keluarga berencana pergi tamasya misalnya.
Hindari pula terlalu membatasi anak seperti “Kamu nggak boleh nonton TV ya, baca buku aja.”
Memberikan pilihan pada anak seperti “Kamu mau baca buku dulu atau nonton TV dulu?” akan membuat anak merasa diakui dan memiliki perasaan lebih berdaya karena mereka memiliki kontrol untuk memilih.
Biarkan pula anak-anak menyukai hal-hal yang mereka sukai dan tidak menyukai hal-hal yang tidak jadi minat mereka.

Anak-anak tidak hanya butuh tempat tinggal, makanan bergizi dan pakaian saja, namun mereka juga butuh perasaan aman, dilihat, didengar, diterima, dicintai dan kemampuan untuk mengontrol.
Bila kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi, anak bisa tumbuh dengan konsep diri yang buruk.
Mereka bisa pula menemui kendala dalam bersosialisasi dan tentu saja memiliki dampak negatif pada kesehatan emosionalnya.
Namun, bila gelas kebutuhan emosi mereka tercukupi, orang tua dan anak akan memiliki hubungan dan kedekatan emosi yang
tidak hanya sehat dan kuat namun juga berdampak baik pada pertumbuhan kognitif anak.

sumber:

www.pendidikankarakter.com

parenting.dream.co.id


Leave a Comment